Selasa, 28 Februari 2012

APA ITU SOSIOLOGI ?



A.    Definisi Sosiologi menurut Peter L.Berger
Dimulai dengan membahas definisi sosiologi. Sosiologi adalah studi ilmiah mengenai hubungna antara masyarakat dan individu. Mungkin kita belum mengerti dengan baik definisi ini, karena masih banyak sekali konsep dalam definisi yang belum dipahami, atau masih memerlukan definisi lebih lanjut. Konsep-konsep yang masih perlu didefinisikan dalam definisi itu antara lain : studi ilmiah, hubungan, masyarakat, dan individu.
Sosiologi adalah studi ilmiah, dengan kata lain sosiologi adalah ilmu (science). Ada empat criteria untuk menentukan sosiologi itu disebut ilmu, yaitu :
1.      Sosiologi itu bersifat empirik
Sosiologiitu didasarkan pada pengamatan dan penelaran. Pengamatan berarti semua yang berhubungan dengan panca indra manusia, yang dialaminya dalam kehidupan social. Sedangkan penelaran berartisemua yang berhungan dengan akal budi manusia atau yang bersifat rasional (rasio berarti akal budi manusia). Seringkali sifat empirikini dihubungkan dengan sifat ilmu yang dapat dites dengan fakta. Yang faktual tidak dapat disangkal kebenarannya, karena dapat kita lihat sendiri dengan mata kepala atau dengan panca indra yang kita miliki.
2.      Sosiologi itu bersifat teoritik
Sifat ini mungkin agak sulit dibeyangkan. Tetapi ada dua hal yang mempermudah kita untuk mengertinya.
a.       Pertama, teori mengenai konsep sebagai “kalimat ilmiah” yang menghubungkan paling tidak kurang dari dua konsep sosiologi.
b.      Kedua, adanya hubungan sebab-akibat, atau hubungan saling-mengakibatkan.
Dalam pelajaran mengenai metode dan tekinik penelitian, atau dalam pelajaran mengenai teori sosiologi akan dijumpai hubungan sebab-akibat yang juga disebut dengan istilah variabel independen (yang berarti sebab) dan variabel dependen (yang berarti akibat). Hubungan yang bersifat saling mengakibatkan disebut juga dengan istilah “interdependent variable”. Interdependent berarti saling tergantung, sedangkan variabel berarti konsep. Dengan demikian kita sudah mengerti sedikit pengertian tentang teori bahwa sosiologi itu bersifat teoritik, yang artinya bahwa sosiologi itu sudah memiliki sejumlah teori. Dan teori itu dirumuskan dalam bentuk ilmiah, yang sering disebut dengan istilah proposi.
3.      Sosiologi itu bersifat kumulatif
Kumulatif berasal dari kata Latin “cumulare” yang berarti menimbun, menumpuk, makin lama makin besar. Sosiologi bersifat kumulatif, berarti bahwa teori sosiologi dibentuk dengan dasar teori lama yang disempurnakan, ditambah, diperhalus, diperbaiki, dan makin lama makin baik.
4.      Sosiologi itu bersifat nonetik
Artinya, sosiologi dalam usahanya menggambarkan dan menjelaskan masyarakat atau individu sama sekali tidak bermaksud untuk menanyakan apakah masyarakat dilihat dari segi moral baik atau tidak. Sosiologi hanya mau menjelaskan perilaku sosialnya. Kalau seorang ahli sosiologi melihat bahwa dalam masyarakat tertentu kebiasan mencuri atau koropsi itu sudah demikian merajalelanya, dia ingin meneliti mengapa sampai terjadi demikian. Ahli sosiologi itu tidak akan mengatakan bahwa korupsi itu jelek dalam analisisnya. Baik atau buruknya sesuatu itu bukan urusan sosiologi, ada cabang ilmu lain yang membicarakan apakah sesuatu itu baik atau buruk, yakni etika. Sekali lagi sosiologi bukan etika.

B.     Definisi Sosiologi Menurut Max Weber
Menurut Weber, sosiologi adalah ilmu yang berhubungan dengan pemahaman interpretative mengenai tindakan social, dan dengan demikian juga berhubungan dengan sesuatu penjelasan kausal mengenai arah dan konsekuensi tindakan sosial itu. Mungkin agal sulit untuk mengerti definisi sosiologi Weber ini, karena beberapa konsep yang masih belum jelas bagi Anda. Pemahaman interpretative merupakan terjemahan istilah Jerman (naskah aslinya) yakni “verstehen”. Verstehen dalam bahasa Jerman memeng berarti memahami tau mengerti. Verstehen adalah konsep sosiologi yang mempunyai arti yang lebih dalam daripada yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Verstehen dapat diartikan sebagai metode (cara) untuk mengumpulkan data atau informasi yang berhubungan dengan tidakan sosiologi.  Sosiologi Weber cukup sulit untuk dimengerti, ada satu konsep yang masih harus dijelaskan yakni tindakan sosial. Sosiologi menurut Weber bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tindakan manusia atau menghubungkan mengapa sampai orang bertindak demikian, dan untuk apa bertindak demikian.begi
Menurut Weber antara masyarakat dan individu yang paling penting adalah individu. Bukan berarti Weber menolak sama sekali kehadiran atau adanya masyarakat. Kesimpulan yang dapat ditarik dari definisi sosiologi Weber adalah bahwa sosiologinya menekankan individu yang memberikan arti pada sesuatu yang ada diluarnya secara subyektif. Karena itu sosiologi Weber sering disebut dengan Sosiologi interpretatif. Dalam sosiologi modern pengaruh Maxweber ini masih sangat besar. Banyak sekali ide-idenya yang cemerlang dan tidak tertandingi. Ia menulis banyak sekali, antara lain mengupas misalnya hubungan antara agama dan perilaku ekonomi, agama dan politik, rasionalisme, kapitalisme, dan lain-lain.
Weber adalah orang Jerman, hidup dari tahun 1864-1920. Seorang ahli sosiologi yang juga sebaya dengannya adalah Georg Simmel, hidup dari tahun 1858-1918. Cara berfikir kedua tokoh ini hamper sama. Kalau dalam sosiologi Weber yang dipelajari adalah tindakan sosial, maka sosiologi dalam Simmel yang dipelajari dalam sosiologi adalah interaksi sosial yang disebutnya dengan istilah sosial. Jadi tekanan simmel adalah pada individu yang berinteraksi. Apa yang disebut masyarakat menurut simmel dan Weber hanyalahdiberikan pada interaksi yang lansung dapat kita amati pada orang yang sedang berinteraksi. Keduanya beragumentasi bahwa yang langsung kita lihat adalah orang, yang kita temui di jalan adalah orang yang berinteraksi satu sama lain. Bahwa ada system yang merupakan hasil dari interaksi tidak dapat disangkal, namun harus diakui bahwa system interaksi itu adalah hasil atau produk dari individu yang berinteraksi.
 Dalam banyak hal, orang Jerman berbeda dengan orang Perancis. Dalam kurun waktu yang sama ada seseorang tokoh sosiologi dari Perancis yang bernama Emile Durkheim memberikan defiisi sosiologi yang berlainan dengan Weber dan Simmel.

C.    Definisi Sosiologi Menurut Comte dan Durkheim
Kata sosiologi yang digunakan sesungguhnya berasal dari August Comte. Ia menggabungkan dua kata dari bahasa yang berlainan “sosius” yang berarti teman atau sesame (bahasa Latin) dan “logos” yang berarti ilmu (bahasa Yunani). Dari gabungan dua kata tersebut lalu muncullah kata sosiologi. Walaupun pengaruhnya terhadap perkembangan sosiologi moderb tidak terlalu besar seperti pengaruh Emile Durkheim, maka perlu mengetahui sedikit sosiologi menurut Comte, yang sering disebut dengan Bapak sosiologi itu.isidore Auguste Francois Marie Xavier Comte, demikian nama lengakapnya, hidup pada tahun 1789-1857. Berasal dari Perancis. Sosiologi menurutnya merupakan ilmu positif tentang masyarakat. Positif disini sama artinya dengan empirik. Comte pada mulanya sangat berambisi untuk membuat sosiologi itu sebagai suatu ilmu yang bertujuan untuk mengetahui (masyarakat), dan dengan pengetahuan itu kita dapat menjelaskannya, meramalkan dan mengontrolnya. Artinya, sosiologiadalah studi ilmiah tentang masyarakat. Di Indonesia tentu tidak setuju dengan pandangan comte ini. Masyarakat yang baikbagi Indonesia, tidak harus menjadi masyarakat Barat atau Perancis, walaupun ada juga gejala yang memperlihatkan bahwa kemajuan di Indonesia diartikan sama dengan menjadi seperti Barat (westernisasi).
Emile Durkhiem adalah orang perancis keturunan yahudi. Ia meletakkan dasar sosiologi ilmiah positif. Hidup tahun 1858-1917, jadi kurang lebih sebya dengan Weber di Jerman. Namun pandangannya sangat berlainan. Menurutnya, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari fakta sosial, dan fakta sosial bukan individual.
Fakta sosial adalah setiap cara bertindak, yang fiks atau tidak, mampu bekerja atas individu sebagai takanan dari luar (eksternal) atau setiap cara bertindak yang umumnya terdapat dalam suatu masyarakattertentu, yang eksistensinya sendiri, dengan cara dan dunianya sendir, terlepas dari manifestasi-manifestasi individu. Definisi ini ungkin sulit untuk dimengerti. Tetapi contoh yang paling jelas dari fakta sosial adalah kebiasaan, peraturan, norma (hukum) dan sebagainya, dan fakta sosial yang paling besar dan umum adalah masyarakat.
Ada sifat utama dari fakta sosial yang terdapat dalam definisi diatas yaitu eksternal, memaksa dan berlaku umum. Dunia eksternal adalah dunia objektif, dunia yang berada diluar individu. Oleh karena itu, kalau fakta sosial bersifat eksternal. Itu berarti bahwa fakta sosial tidak ada sangkut pautnya dengan individu. Dengan sifatnya yang memaksa, kenyataan objektif merupakan satu kekuatan yang menekan individu dari luar, memaksanya harus berbuat sesuai dengan fakta sosial. Sifat eksternal dan memaksa itu, tidak hanya berlaku untuk individu tetapi juga berlaku untuk sebagian orang dalam satu kurun waktu dan masyarakat tertentu.
Dalam pandangan mengenai individu kita lihat adanya kebebasan dalam bertindak karena setiap orang dapat memberikan interprestasinya sendiri mengenai peraturan yang ada dalam sosiologi Weber. Maka dalam pandangan Durkheim individu itu rupanya tidak penting sama sekali, individu harus tunduk kepada masyarakat yakni fakta sosial. Kedua tokoh ini rupanya tidak memperlihatkan persamaan dalam pandangannya mengenai individu.





Dari uraian tersebut, dapat digambarkan sebagai berikut ini :

Durkheim
Weber
Tekanannya
Masyarakat
Individu
Sifat-sifat
Memaksa
Umum
Eksternal
Objektif
Bebas
Unik/khusus
Internal
Subjektif interpretatif

Istilah subjektif disisni tidak boleh diartikan sebagaisuatu yang tidak ilmiah seperti yang sering kita dengar dalam percakapan sehari-hari, melainkan yang berhubungan dengan internal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar